Dapatkan informasi secara realtime dengan mengikuti kami di Blogger   or Google News

Radioterapi pada Kanker Nasofaring

Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated

Ringkasan Materi Karsinoma Nasofaring (KNF)

Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan salah satu jenis kanker yang cukup sering ditemukan di Indonesia dan termasuk dalam kelompok keganasan terbanyak setelah kanker serviks, kanker payudara, dan kanker paru. Kanker ini berasal dari jaringan nasofaring, yaitu bagian atas tenggorokan yang terletak di belakang rongga hidung. Karena letaknya yang dalam dan berdekatan dengan berbagai struktur penting di kepala dan leher, penanganan KNF memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan jenis kanker lainnya.

Penentuan stadium KNF menggunakan sistem TNM yang terdiri dari ukuran dan penyebaran tumor primer (T), keterlibatan kelenjar getah bening regional (N), serta adanya metastasis jauh (M). Stadium tumor ditentukan berdasarkan luas penyebaran tumor dari nasofaring ke jaringan sekitar, keterlibatan kelenjar getah bening leher, dan penyebaran ke organ lain di luar daerah kepala dan leher.

Dalam pengobatan KNF, tindakan operasi memiliki peran yang sangat terbatas karena lokasi tumor yang sulit dijangkau secara bedah. Kemoterapi dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada kasus tertentu, namun radioterapi tetap menjadi modalitas utama dalam pengobatan kanker nasofaring. Radioterapi diberikan dengan tujuan kuratif pada sebagian besar pasien, kecuali pada kasus yang telah mengalami metastasis jauh.

Sasaran utama penyinaran meliputi tumor primer di daerah nasofaring, kelenjar getah bening leher, serta daerah supraklavikula yang berisiko mengalami penyebaran penyakit. Radioterapi eksterna dilakukan menggunakan pesawat Cobalt-60 atau Linear Accelerator (LINAC) dengan dosis total sekitar 60–66 Gy untuk tumor primer. Pada stadium awal, lapangan penyinaran dapat diperkecil setelah dosis tertentu tercapai untuk mengurangi paparan terhadap jaringan sehat di sekitar target.

Selain radioterapi eksterna, pada kasus tertentu dapat diberikan brakhiterapi intrakaviter sebagai terapi tambahan (booster). Teknik ini dilakukan dengan memasukkan aplikator melalui rongga hidung sehingga sumber radiasi dapat ditempatkan lebih dekat dengan area tumor. Brakhiterapi umumnya diberikan pada stadium awal setelah penyinaran eksterna selesai dan bertujuan meningkatkan dosis pada daerah tumor tanpa meningkatkan dosis secara signifikan pada jaringan sehat.

Pelaksanaan radioterapi dilakukan dengan posisi pasien terlentang menggunakan alat fiksasi berupa masker kepala dan leher untuk menjaga posisi tetap stabil selama penyinaran. Teknik penyinaran yang umum digunakan adalah dua lapangan lateral untuk tumor primer dan satu lapangan tambahan untuk daerah supraklavikula. Perencanaan lapangan radiasi dilakukan dengan mempertimbangkan perlindungan terhadap organ-organ penting seperti mata, medula spinalis, rongga mulut, dan jaringan normal lainnya.

Selama menjalani radioterapi, pasien harus dipantau secara rutin untuk menilai respons tumor serta mendeteksi efek samping yang mungkin muncul. Efek samping yang sering terjadi meliputi kemerahan dan penggelapan kulit pada daerah penyinaran, nyeri saat menelan, hilangnya kemampuan mengecap rasa, mulut kering (xerostomia), serta infeksi jamur pada rongga mulut. Berkurangnya produksi saliva juga dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi dan gangguan kesehatan mulut.

Evaluasi berkala dilakukan setiap minggu selama terapi berlangsung untuk memantau kondisi pasien, respons tumor, perubahan ukuran kelenjar getah bening, serta memastikan parameter penyinaran tetap sesuai dengan rencana terapi. Jika efek samping menjadi berat, dokter dapat melakukan penyesuaian dosis, pemberian terapi suportif, atau penghentian sementara radioterapi hingga kondisi pasien membaik.

Secara keseluruhan, radioterapi merupakan terapi utama dan paling efektif dalam penanganan karsinoma nasofaring. Dengan perencanaan yang tepat, penggunaan teknik penyinaran yang akurat, serta pemantauan yang baik selama terapi, radioterapi mampu memberikan peluang kesembuhan yang tinggi sekaligus mempertahankan fungsi organ dan kualitas hidup pasien.

Preview PPT

Related Posts

Baca juga :

About the Author

Lecturer in Diagnostic Radiography & Radiotherapy

Post a Comment

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.